Rabu, 02 Februari 2011

I'jaz Al Qur'an

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kehadiran al-Quran yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw, merupakan sebuah Maha Karya yang Agung dari Allah Swt sebagai sebuah landasan dan pedoman hidup manusia. Yang menjadi sumber inspirasi dan motivasi. Dengan kedatangan al-Qur’an yang original dari Allah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad merupakan penyempurna terhadap kitab-kitab sebelumnya. Ini merupakan bukti kemukjizatan al-Qur’an yang tiada seorangpun yang dapat menirunya dan mendatangkan hal semisalnya. Al-Quran menantang orang-orang Arab yang meragukan kebenaran al-Qur’an untuk membuat hal yang serupa dengan al-Qur’an, Allah Swt berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 23 yang artinya: “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kam (Muhammad), buatlah satu surat saja yang semisal al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar” (QS. al- Baqarah;23)

Kemu’’jizatan al-Qur’an sebagai mana yang dikemukakan oleh Quraish Shihab nampak dalam tiga hal pokok. Pertama pada redaksinya yang mencapai puncak tertinggi dari sastra Arab. Kedua, kandungan ilmu pengetahuan dari berbagai disiplin yang diisyaratkan. Ketiga, ramalan-ramalan yang diungkapkan, yang sebagian telah terbukti kebenarannya.

Dalam makalah ini penulis akan mencoba memberikan gambaran secara umum mengenai pengertian, macam dan segi kemu’jizatan al-Qur’an yang kami kaji dari beberapa referensi.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan I’jazul Qur’an ?

2. Ada berapa macam I’jaz dalam al-Qur’an?

3. Ada berapa segi kemu’jizatan yang terkandung dalam al-Qur’an?

4. Bagaimana pendapat para ulama mengenai I’jazul Qur’an?


BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian I’jazul Qur’an (Kemu’jizatan al-Qur’an)

Menurut bahasa: kata I’jaz adalah isim mashdar dari ‘ajaza-yu’jizu-I’jazan yang mempunyai arti “ketidak berdayaan dan keluputan”.

Secara istilah: Penampakan kebenaran kerasulan Nabi Muhammad SAW. dalam ketidakmampuan orang Arab untuk menandingi mukjizat nabi yang abadi, yaitu Al-qur’an

I’jazul Quran (kemu’jizatan al-Qur’an) ialah kekuatan, keunggulan dan keistimewaan yang dimiliki al-Qur’an yang menetapkan kelemahan manusia, baik secara berpisah-pisah maupun berkelompok, untuk bisa mendatangkan sesuatu atau menyamainya. Yang dimaksud dengan kemu’jizatan al-Qur’an bukan berarti melemahkan manusia dengan pengertian melemahkan yang sebenarnya. Artinya memberi pengertian kepada mereka tentang kelemahan mereka untuk mendatangkan sesuatu yang sejenis dengan al-Qur’an; menjelaskan bahwa kitab al-Quran ini haq, dan Rasul yang membawanya adalah Rasul yang benar[1].

I’jaz dapat pula diartikan sebagai kemu’jizatan, yaitu sesuatu yang dapat melemahkan, yang membuat sesuatu atau pihak lain tak berdaya. Pada dasarnya al-Mu’jiz (yang melemahkan) itu adalah Allah Swt; yang menyebabkan selainnya lemah sebagai bentuk mubalaghah (penegasan) kebenaran berita mengenai betapa lemahnya orang- orang yang didatangi Rasul untuk menentang mu’jiz tersebut.[2]

Tujuan adanya i’jazul qur’an antara lain :

§ Membuktikan bahwa nabi Muhammad SAW betul-betul seorang utusan.

§ Membuktikan kebenaran bahwa alqur’an adalah wahyu dari Allah SWT.

§ Menunjukkan kelemahan berbahasa manusia; para sastrawan dan pakar bahasa Arab tidak mampu menandingi Al-qur’an.

§ Menunjukkan bahwa manusia bukanlah siapa-siapa; kesombongannya tidak sebanding dengan kemampuannya[3]

B. Pengertian Mukjizat

  1. Sebuah fenomena adikodrati disertai dengan tantangan yang taktertandingi.[4]
  2. Sebuah perkara luar biasa (khoriqun lil ‘adah) yang muncul pada diri seorang yang mengaku nabi dalam sebuah kapasitas tertentu yang tidak bias dilakukan oleh siapapun yang mengingkarinya.[5]

Macam-macam mukjizat

1. Mu’jizat Indrawi (Hissiyyah)

Mukjizat jenis ini diderivasikan pada kekuatan yang muncul dari segi fisik yang mengisyaratkan adanya kesaktian seorang nabi. Secara umum dapat diambil contoh adalah mukjizat nabi Musa dapat membelah lautan, mukjizat nabi Daud dapat melunakkan besi serta mukjizat nabi-nabi dari bani Israil yang lain. Bahkan secara umum bila melihat komentar Imam Jalaludin as-Suyuthi, dimana beliau berpendapat bahwa kebanyakan maukjizat yang ditanpakkan Allah pada diri para nabi yang diutus kepada bani Israil adalah mukjizat jenis fisik. Beliau menambahkan hal itu dikarenakan atas lemah dan keterbelakangan tingkat intelegensi bani Israil[6]

2. Mukjizat Rasional (‘Aqliyah)

Mukjizat ini tentunya sesuai dengan namanya lebih banyak ditopang oleh kemampuan intelektual yang rasional. Dalam kasus al-Quran sebagai mukjizat nabi Muhammad atas umatnya dapat dilihat dari segi keajaiban ilmiah yang rasional dan oleh karena itulah mukjizat al-Quran ini bias abadi sampai hari Qiamat. Jalaludin as-Suyuthi kembali berkomentar, bahwa sebab yang melatarbelakangi diberikannya mukjizat rasional atas umat nabi Muhammad adalah keberadaan mereka yang sudah relative matang dibidang intelektual. Beliau menambahkan, oleh karena itu al-Quran adalam meukjizat rasional, maka sisi i’jaznya hanya bias diketahui dengan kemampuan intelektual, lain halnya dengan mukjizat fisik yang bias diketahui dengan instrument indrawi. Meskipun al-Quran diklasifikasian sebagai mukjizat rasional ini tidak serta merta menafikan mukjizat-mukjizat fisik yang telah dianugrahkan Allah kepadanya utnuk memperkuat dakwahnya.

C. Macam – Macam I’jaz dalam al-Qur’an

a. I’jaz Bayaani.

Yaitu suatu mukjizat yang tidak ada didalam Al-Qur’an satu kalimat pun yang dapat ditambahkan oleh siapapun, ataupun dikurangi selain oleh Allah SWT.

b. I’jazul Ilmiyah

Yaitu suatu Mu’jizat didalam al-Qur’an yang mengandung ilmu pengetahuan, meski ditemukan rahasia alam ini sudah berapa tahun setelah turunnya Al-Qur’an, oleh para pakar alam, metafisika, biologi, dan lainnya. Suatu contoh, bertemunya dua laut, yang disebut dalam Al-Qur’an, baru ditemukan rahasianya, begitupun pertumbuhan janin, menggantungnya janin dalam rahim, ilmu ini baru ditemukan kebenarannya dan masih banyak lagi apa-apa yang disebutkan Seumpama, mengapa diharamkan babi, khamar.

Perbedaan-perbedaan tanah, didalam jenisnya,sebagaimana di dalam Hadist, juga punya I’jaz ilmiyah, seperti mengapa kita diminta menghindari diri dari terik mentari, karena akan mengurangi shahwat.Ternyata setelah diteliti ilmuwan, memang berjemur di panas terik mentari (siang bolong), ada zat-zat, atau hormon-hormon seksual yang rusak.

c. I’jazul Maudhu’i

Yaitu bagi siapa saja yang membaca al-Qur’an ini dan memahaminya, melakukan apa-apa yang diperintahkan Allah, maka Allah kelak akan memuliakannya dunia dan akhirat.[7]

D. Segi Kemu’jizatan al-Qur’an

1. Segi Bahasa dan Susunan Redaksinya

Sejarah telah menyaksikan bahwa bangsa Arab pada saat turunnya al-Quran telah mencapai tingkat yang belum pernah dicapai oleh bangsa satu pun yang ada didunia ini, baik sebelum dan seudah mereka dalam bidang kefashihan bahasa (balaghah). Mereka juga telah meramba jalan yang belum pernah diinjak orang lain dalam kesempurnaan menyampaikan penjelasan (al-bayan), keserasian dalam menyusun kata-kata, serta kelancaran logika.

Oleh karena bangsa Arab telah mencapai taraf yang begitu jauh dalam bahasa dan seni sastra, karena sebab itulah al-Quran menantang mereka. Padahal mereka memiliki kemampuan bahasa yang tidak bisa dicapai orang lain seperti kemahiran dalam berpuisi, syi’ir atau prosa (natsar), memberikan penjelasan dalam langgam sastra yang tidak sampai oleh selain mereka. Namun walaupun begitu mereka tetap dalam ketidakberdayaan ketika dihadapkan dengan al-Quran.[8]

Selanjutnya apabila ketidakmampuan bangsa Arab telah terbukti sedangkan mereka jago dalam bidang bahasa dan sastra, maka terbukti pulalah kemukjizatan al-Quran dalam segi bahasa dan sastra dan itu merupakan argumenatasi terhadap mereka maupun terhadap kaum-kaum selain mereka. Sebab dipahami bahwa apabila sebuah pekerjaan tidak bisa dilakukan oleh mereka yang ahli dalam bidangnya tentunya semakin jauh lagi kemustahilan itu bisa dilakukan oleh mereka yang tidak ahli dibidangnya.[9]

Berkaitan dengan masalah pembuktian akan ketidak mampuan bangsa Arab untuk menyaingi al-Quran para ulama banyak memberikan komentar yang mengisyaratkan adanya perbedaan tentang ihwal ketidakmampuan itu bisa terjadi. Secara umum pendapat ulama dalam masalah sebab terjadinya fenomena ketidakmampuan orang Arab untuk menandingi al-Quran ada dua pendapat, yaitu:[10]

a. Muncul dari factor i’jaz yang terkait dan inheren dalam al-Quran

b. Muncul dari luar al-Quran dengan adanya kesengajaan Allah untuk melemahkan orang Arab secara intelektual (sharfah)

2. Segi Isyarat Ilmiah

Pemaknaan kemukjizatan al-Quran dalam segi ilmiyyah adalah dorongan serta stimulasi al-Quran kepada manusia untuk selalu berfikir keras atas dirinya sendiri dan alam semesta yang mengitarinya[11]. Al-Quran memberikan ruangan sebebas-bebasnya pada pergulan pemikiran ilmu pengetahuan sebagaimana halnya tidak ditemukan pada kitab-kitab agama lainnya yang malah cenderung restriktif. Pada qkhirnya teori ilmu pengetahuan yang telah lulus uji kebenaran ilmiahnya akan selalu koheren dengan al-Quran. Al-Quran dalam mengemukakan dalil-dalil, argument serta penjelasan ayat-ayat ilmiah, menyebutkan isyarat-isyarat ilmiah yang sebagaiannya baru terungkap pada zaman atom, planet dan penaklukan angkasa luar sekarang ini. Diantaranya adalah :

a. “Dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS. Al-Anbiya’: 30). Dalam ayat ini terdapat isyarat ilmiah tentang sejarah tata surya dan asal mulanya yang padu, kemudian terpisah-pisahnya benda-benda langit (planet-planet), sebagian dari yang lain secara gradual. Begitu juga di dalamnya terdapat isyarat tentang asal-usul kehidupan yaitu dari air.

b. “Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” (QS. Al-Hijr: 22) ayat ini meberikan isyarat tentang peran angin dalam turunnya hujan begitu juga tentang pembuahan serbuk bunga tumbuh-tumbuhan.

c. “Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam Keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka,” (QS. Al-Zalzalah: 6) adanyan pemeliharaan dan pengabadian segala macam perbuatan manusia di dunia. Dan jika ini dapat dilakukan manusia, maka pastilah itu jauh lebih mudah bagi Allah

d. “Bukan demikian, sebenarnya Kami Kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.” (QS. Al-Qiyamah: 4) dianatara kepelikan penciptaan manusia adalah sidik jarinya. Ayat ini menyebutkan kenyataan ilmiah bahwa tidak ada jari-jari tangan seorang manusia yang bersidik jari yang sama dengan manusia yang lainnya

3. Segi Pemberitaan yang Ghaib

Surat-surat dalam al-Quran mencakup banyak berita tentang hal ghaib. Kapabilitas al-Quran dalam memberikan informasi-informasi tentang hal-hal yang ghaib seakan menjadi prasyarat utama penopang eksistensinya sebagai kitab mukjizat. Akan tetapi pemberian informasi akan segala hal yang ghaib tidak memonopoli seuruh aspek kemukjizatan al-Quran itu sendiri. Diantara contohnya adalah:

a. Keghaiban masa lampau. Al-Quran sangat jelas dan fasih sekali dalam menjelaskan cerita masa lalu seakan-akan menjadi saksi mata yang langsung mengikuti jalannya cerita. Dan tidak ada satupun dari kisah-kisah tersebut yang tidak terbukti kebenarannya. Diantaranya adalah: Kisah nabi Musa: Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.” mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan Kami buah ejekan?”[62] Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil”.(QS. Al-baqarah: 67) Kisah Fir’aun : 4. Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun Termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al-Qoshosh: 4)

b. Keghaiban masa sekarang. Terbukanya niat busuk orang munafik di masa rasulullah.. “Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, Padahal ia adalah penantang yang paling keras”.(QS. Al-Baqarah: 204)

c. Keghaiban masa yang akan dating. Ghulibatir ruum. Fii adnal ‘ardhii wahum min ba’di ghalibiin sayaghlibun fi bid’i sinin (QS. Ar-Rum 2-4)

4. Segi Petunjuk Penetapan Hukum Syara’

Diantara hal-hal yang mencengangkan akal dan tak mungkin dicari penyebabnya selain bahwa al-Quran adalah wahyu Allah, adalah terkandungnya syari’at paling ideal bagi umat manusia, undang-undang yang paling lurus bagi kehidupan, yang dibawa al-Quran utnuk mengatur kehidupan manusia yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Antara lain contohnya :

a. Keadilan. “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”. (QS. An-nahl: 90)

b. Mencegah pertumpahan darah. “Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, Maka seakan-akan Dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah Dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan Sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.”

c. Pertahanan untuk menghancurkan fitnah dan agresi. “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), Maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. (QS. Al-Baqarah: 193)

E. Pendapat Para Ulama tentang I’jaz al-Qur’an

Setelah para ulama sepakat bahwa kemu’jizatan al-Qur’an itu karena dzatnya, serta tidak seorangpun yang sanggup mendatangkan sesuatu yang sebanding dengannya, maka pandangan ulama berbeda-beda dalam meninjau segi kemu’jizatannya.

Sebagian ulama berpendapat bahwa segi kemu’jizatan al-Qur’an adalah sesuatu yang terkandung dalam al-Qur’an itu sendiri, yaitu susunan yang asing yang berbeda dengan susunan orang arab pada umumnya.

Sebagian yang lain berpendapat bahwa segi kemu’jizatan itu terkandung dalm lafadz-lafadznya yang jelas, redaksinya yang bersastra dan susunannya yang indah, karena al-Qur’an sastranya termasuk yang tidak ada bandingannya.

Ulama lain berpendapat bahwa kemu’jizatan itu karena al-Qur’an terhinadar dari adanya pertentangan, serta mengandung arti-arti yang lembut dan hal-hal yang ghaib di luaar kemampuan manusia dan di luar kekuasaan mereka untuk mengetahuinya, seperti halnya al-Qur’an bersih dan selamat dari pertentangan dan perselisihan pendapat.

Ada lagi yang berpendapat bahwa kemu’jizatan al-Qur’an adalah karena adanya keistimewaan-keistimewaan yang nampak dan keindahan-keindahan yang menarik yang terkandung dalam al-Qur’an, baik permulaan, tujuan, maupun dalam menutup setiap surat[12]


BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

1. I’jazul Qur’an adalah kekuatan, keunggulan dan keistimewaan yang dimiliki Al-Qur’an yang menetapkan kelemahan manusia, baik secara terpisah maupun berkelompok-kelompok, untuk bisa mendatangkan minimal yang menyamainya.

2. Mukjizat adalah Sebuah fenomena adikodrati disertai dengan tantangan yang taktertandingi. Dan mukjizat dibagi menjadi 2 yaitu Mu’jizat Indrawi (Hissiyyah) Mukjizat Rasional (‘aqliyah)

3. Macam – Macam I’jaz dalam al-Qur’an yaitu I’jaz Bayaani, I’jazul Ilmiyah dan ’jazul Maudhu’i

4. Kemu’jizatan al-Qur’an dapat dilihat dari beberapa segi, yaitu segi bahasa dan susunan redaksinya, segi isyarat ilmiah, segi pemberitaan yang ghaib dan segi petunjuk penetapan hukum syara’

5. Pandangan ulama berbeda-beda dalam meninjau segi kemu’jizatannya.

a. Segi kemu’jizatan al-Qur’an adalah sesuatu yang terkandung dalam al-Qur’an itu sendiri,

b. Terkandung dalam lafadz-lafadznya yang jelas, redaksinya yang bersastra dan susunannya yang indah,

c. Terhindar dari adanya pertentangan, serta mengandung arti-arti yang lembut dan hal-hal yang ghaib di luar kemampuan manusia dan di luar kekuasaan mereka untuk mengetahuinya

d. Adanya keistimewaan-keistimewaan yang nampak dan keindahan-keindahan yang menarik yang terkandung dalam al-Qur’an


DAFTAR PUSTAKA

Al-Jazari, Thahir bin Shalih. Jawahirul Kalamiyah fi Idhohil Aqidatul Islamiyah. Surabaya: al-Hidayah, t.t

Al-Qathan, Manna’. Al-Mabahis fi Ulumil Quran. Mesir: Mansyurat Al-Ashr Al-Hadis, 1973

An-Najd, Abu Zahra. Al-Qur’an dan Rahasia Angka-Angka, terjemah Agus Efendi. Jakarta: Pustaka Hidayah, 1991

Ash-Shabuni, Muhammad Ali. Pengantar Studi Al-Quran, terjemah H. Muhammad Khudhori Umar dan Muh. Matsna HS. Bandung: Al Ma’arif, 1987

As-Suyuthi Jalaludin. al-Itqon fi Ulumi al-Quran, juz II. Mesir: Muassasah al-kutub as-Saqofiyah, t.t.

Hasbunabi, Mansur. al-Kaun wa al-I’jaz fi al-Quran, Libanon: Dar el-Fikr al-Araby, tt.

Jalal, Abdul. Ulumul Qur’an. Surabaya: Dunia Ilmu, 2000

Zahro, Imroatul. Hujjah al-Qur’an dan I’jaz al-Qur’an http://mabadik.wordpress.com/2010/07/18/hujjah-al-qur’an-dan-i’jaz-al-qur’an/ 18 Juli 2010, diakses pada tanggal 3 Desember 2010

Zarqani, Muhammad. Manahilul Irfan fi Ulumil Quran, Juz III. Mesir: Isa Al-Babi Al-Himabi, t.t.



[1] Muhammad Ali Ash Shabuni. Pengantar Studi Al-Quran, terjemah H. Muhammad Khudhori Umar dan Muh. Matsna HS (Bandung; Al Ma’arif, 1987), hlm. 102-103

[2] Abu Zahra An Najd. Al-Qur’an dan Rahasia Angka-Angka, terjemah Agus Efendi (Jakarta: Pustaka Hidayah, 1991), hlm. 17

[3] H. Abdul Jalal H. A. Ulumul Qur’an (Surabaya: Dunia Ilmu, 2000), hlm.270

[4] Jalaludin as-Suyuthi. al-Itqon fi ulumi al-Quran, juz II. Mesir: Muassasah al-kutub as-Saqofiyah, t.t. hlm. 311

[5] Thahir bin Shalih al-Jazari. Jawahirul Kalamiyah fi Idhohil Aqidatul Islamiyah. Surabaya: al-Hidayah, t.t. hlm. 26

[6] Jalaludin as-Suyuthi. al-Itqon fi ulumi al-Quran, juz II. Mesir: Muassasah al-kutub as-Saqofiyah, t.t. hlm. 311

[7] Imroatul Zahro, Hujjah al-Qur’an dan I’jaz al-Qur’an http://mabadik.wordpress.com/2010/07/18/hujjah-al-qur’an-dan-i’jaz-al-qur’an/ 18 Juli 2010, diakses pada tanggal 3 Desember 2010

[8] Manna’ al-Qathan, al-Mabahis fi Ulumil Quran, Mesir: Mansyurat Al-Ashr Al-Hadis, 1973 hlm. 264-265. tantangan al-Quran pada orang-orang Arab pada saat itu tidak hanya sekali. Pertama tantangan itu berupa undangan bagi orang-orang Arab beserta seluruh kekuatan pendukungnya baik dari jin atau manusia utnk membuat padanan al-Quran (QS. Al-Isro’: 88). Kemudian tantangan itu ditingkatkan menjadi 10 surat (QS. Hud: 13). Pada khirnya tantangan terakhir hanya untuk meniru satu saurat dari al-Quran (QS. Al-Baqarah: 23). Lihat Abdul Qahir al-Jurjani, Dala’ilul I’jaz, hlm. 385. dikatakan bahwa al-Quran itu adalam kalam tapi tidak seperti kalam manusia, sehingga para penyair Arab seperti Umrul Qais hanya ahli dalam hlm ekspresi kegembiraan serta penggamabaran keelokan wanita, lalu an-Nabigho ahli dibidang syi’ir tentang ekspresi ketakutan, syi’ir al-A’sya paling demonstrative dalam hlm penghibaan atau permohonan, sedangkan syi’ir-syi’ir Zuhair hanya piawai dalam penyusunan kata sebagai ungkapan cinta dan pengandaian. Lihat Ibn al-Khatib, al-Furqon, hlm. 14

[9] Muhammad Zarqani. Manahilul Irfan fi Ulumil Quran, Juz III. Mesir: Isa Al-Babi Al-Himabi, t.t. hlm. 332

[10] Manna’ al-Qathan. Mabahis fi ulumil Quran, hlm. 261

[11] Mansur Hasbunabi. al-Kaun wa al-I’jaz fi al-Quran, Libanon: Dar el-Fikr al-Araby, hlm. 19-20

[12] Muhammad Ali Ash Shabuni. Pengantar Studi AlQuran, terjemah H. Muhammad Khudhori Umar dan Muh. Matsna HS (Bandung: Al Ma’arif, 1987), hlm. 117-118

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar